Jujur Juga Susah

Ahh… dari kemarin siang sampai dengan kemarin malam, entah kenapa selalu terkait dengan sesuatu yang dinamakan dengan kejujuran. Kata yang sangat, teramat sangat mudah untuk mengucapkannya. Tapi implementasinya? nanti dulu. saya tidak bermaksud untuk mendeklarasikan kampanye pentingnya kejujuran, karena hal itu terlanjur menjadi hal yang klise.

Namun, kalau dilihat sepintas, bisa jadi kejujuran bisa juga mendatangkan “masalah” dalam sudut pandang tertentu (dan tanda kutip).

Pernah suatu waktu, berbagi cerita dengan salah seorang Kepala Cabang Dinas Pendidikan di salah satu daerah di Kalsel ini, beliau bercerita bahwa tidak lama berselang telah dikunjungi oleh seorang Kepala Sekolah Dasar di wilayah kerjanya. Sang Kepala SD ini selain melaporkan keadaan dan pelaksanaan proses belajar di sekolah yang dipimpinnya, juga melaporkan hal lain.

Hal lain yang beliau laporkan, ternyata membuat dadanya sesak dan tak kuasa menahan tangis. Kepala SD ini tidak terima di cap curang oleh sebagaian orang.

Apa pasal?
Karena pada pelaksanaan uji coba ujian, sejumlah siswa di sekolah yang dipimpin beliau itu mendapatkan nilai sempurna, alias tanpa ada yang salah. Kontan, hasil ini membuat sejumlah pihak merasa ada yang ganjil. Beliau tidak terima dengan tudingan ini.

Beliau jelaskan, bagaimanapun hasil tersebut adalah masih sebatas hasil try out, dan hasil itu diperoleh tidak dengan kecurangan, melainkan betul-betul dengan persiapan yang dilakukan. Para guru yang mengajar pada bidang tersebut, telah berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan hal tersebut dan memberikan pelajaran tambahan dan latihan.

Saya tersenyum mendengar cerita Kacab Disdik tersebut. Beliau pun hanya mengatakan, bahwa tidak ada gunanya bagi Kepala SD tersebut menanggapi tudingan miring yang tidak berdasar itu. Kalau memang berhasil ya sudah, tidak perlu pusing memikirkan orang lain.

Saya sepakat.

Hal ini memang sangat konyol, begitu mudahnya kita kadang mencap orang lain tidak jujur saat orang lain memperoleh hasil yang jauh lebih baik dari pada kita. Saat orang lain berhasil, bukannya turut bersenang hati, yang ada adalah berusaha untuk memberikan cacat.

Hal ini mengingatkanku pada kekonyolan salah seorang lelaki muda yang membuat Sekretaris Daerah yang kebetulan juga pamannya di salah satu Kabupaten di Kalimantan Tengah terdiam seribu basa.

Begini katanya:
“Om, saat ini kan ada penerimaan PNS. Anggaplah saya begitu pintarnya, kemudian saya lulus tes dengan tanpa ada bantuan dari Om sedikitpun. Kira-kira, orang lain yang sudah tau bahwa saya ponakannya Om, akan membicarakan hal ini tidak? Menduga bahwa Om tetap memberikan bantuan atas kelulusan itu?” tanyanya pada sang Om.

“Kira-kira begitu”, jawab Sang Sekda.

“Kalau begitu Om, dibantu atau tidak dibantu, toh tetap juga jadi bahan pembicaraan dan kecurigaan. Bukankah lebih baik dibantu sekalian?” lanjut lelaki muda ini, yang kebetulan adalah kawan sepermainanku sewaktu kecil.

ahha… usulan yang cerdas, riil tapi juga menggelikan, dan Sang Sekda pun terdiam, saya hanya bisa tergelak sambil kepikiran.

---
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama pakacil.com

Komentar