Jual Beli Motor di Kaki Lima

Kaki lima? nah… apa yang identik dengan frase yang satu ini? sekedar tempat jualan yang kerap terlihat di pinggiran jalan? harga murah? atau mungkin penggusuran oleh tramtib? Rasa-rasanya seluruh sudut kota yang pernah saya datangi terdapat proses jual beli di kaki lima ini.

Kali ini, saya cerita tentang satu bisnis di kaki lima yang sudah beberapa lama ini menjamur di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan, yakni bisnis jual beli motor bekas di kaki lima.

Menyusuri sejumlah ruas jalan di Banjarbaru, mungkin Anda akan memperhatikan adanya motor-motor yang dijejer rapi dengan label “dijual” yang tertulis pada lembaran kertas. Beruntung kali ini saya memiliki kesempatan untuk mampir untuk sekedar ngobrol kesana kemari dengan salah satu pelaku bisnis jual beli motor di kaki lima ini.

Jual Beli Motor Kaki Lima
Berada di bawah rindangnya pepohonan pinus, ruas jalan terusan Pangeran Suriansyah, atau yang lebih umum dikenal dengan nama wilayah Mentaos di Banjarbaru, salah satu usaha jual beli motor bekas kaki lima ini berlangsung.

Yuni, Rully dan Amang adalah 3 orang yang kebetulan saat itu saya temui dan berbincang soal jenis usaha yang satu ini. Usaha yang sudah dijalani sekian lama.

“Yang penting putarannya cepat”, Yuni menjelaskan, “untung Rp 50.000,- pun barang kita lepas”, lanjutnya. Kalau dalam bahasa teori, apa yang dimaksud dengan putaran itu adalah omzet. Mereka bisa saja menjual sebuah sepeda motor hanya dengan keuntungan yang tidak terlampau besar.

Dari usaha yang mereka jalankan, saya termasuk yang tidak sepakat jika mereka di kategorikan dalam kelompok broker atau makelar atau gobang dalam bahasa daerahnya. Karena yang mereka lakukan murni beli dan jual. Mereka membeli sepeda motor untuk kemudian dijual lagi sebagai usaha utama, bukan sekedar menjual barang titipan. Menjual barang titipan ini hanya sekali dua dilakukan.

“Lebih susah menjual barang titipan, karena proses negonya bisa berlangsung lama. Bisa bolak-balik antara pemilik langsung dan calon pembeli”, demikian penjelasan yang saya dapat. “Sementara kalau kita beli langsung dan jual sendiri, proses nego bisa jauh lebih cepat dan tak perlu bolak-balik”. Nah, kalau saya ini saya juga suka, karena kedua belah pihak, penjual dan pembeli lebih cepat mendapatkan kepastian transaksi, deal or no deal…

Jangan pula menjalankan usaha ini hanya perlu keterampilan nego, ahli dalam jual dan beli semata, tapi paling kurang harus juga mengerti tentang kualitas mesin, tentang onderdil beserta kisaran harga pasarannya. Karena sebagaimana yang saya dengar langsung saat bersama mereka, Rully bercerita, bahwa ada seseorang yang berniat menjual motornya merubah dan menaikkan harga, karena mengaku baru mengganti shock motor dengan yang baru seharga lebih dari 1 juta. Setelah dia perhatian, shock tersebut biasanya berhagar pada kisaran 200 ribuan. Nah, bayangkan kalau tidak tau onderdil dan kisaran harganya.

Pengetahuan dasar atas kualitas mesin juga diperlukan. Hal ini tentu saja terkait dengan harga beli dan jual yang akan ditetapkan nantinya. Harus tanggap pula terhadap perkembangan harga pasaran, agar bisa melakukan transaksi dengan pas.

Apakah saya berminat masuk ke usaha ini? Ho…ho…ho.. syarat pengetahuan tentang orderdil saja sudah membuat saya terdiskualifikasi. Saya pun tak pernah sanggup menghafal atau mengetahui jenis-jenis motor, merk dan type-nya. Wilayah yang berbau mekanikal ini jelas bukan wilayah saya.

Untuk mejalankan usaha ini, utamanya mereka yang benar-benar menjalankan sistem beli dan jual, bukan sekedar broker, ternyata selalu mempersiapkan uang tunai hingga belasan juta rupiah. Ini tentu saja sebagai persiapan, siapa tau tiba-tiba ada yang berniat untuk menjual motornya dan harga cocok, maka transaksi bisa langsung dilakukan. Jelas dan cepat, macam tagline kampanyenya salah satu capres itu.

Sistem pemasaran mereka juga menganut jaringan, yakni rekan-rekan dengan usaha sejenis. Yaaa.. semacam berkoalisi dengan rekan-rekan seprofesi. “Jaringan ini membuat perputaran barang lebih cepat”, demikian penjelasan yang saya terima.

Kalau kemudian ada yang bertanya, “Bukankah sekarang kredit motor baru jauh cukup mudah. Bahkan dengan uang muka yang relatif sangat rendah sudah bisa bawa pulang motor baru?”

Maka saya bisa jawab, “Yaa.. itu betul. Tapi tidak semua orang perlu motor baru, dan tidak semua orang mau kredit. Buktinya, usaha itu terus berjalan, ini artinya usaha mereka tidak tergerus dengan kredit motor baru”.

Sebetulnya di Banjarbaru dan sekitarnya, tidak hanya di Mentaos ini saja posisi beli dan jual motor bekas ini berlangsung, ada beberapa tempat lainnya. Ada pula yang melayani kredit. Namun satu-satunya tempat beli-jual yang “semacam terintegrasi” dengan bengkel cuma di sini saya temukan. Entah mungkin saya tidak menemukan yang lain. Tentu dengan posisi macam ini memudahkan calon pembeli untuk sekalian konsultasi soal keadaan mesin dengan sang Mekanik, dan jangan khawatir, sang mekanik akan menjelaskan dengan apa adanya, tidak akan memanipulasi kualitas barang.

Nah, jika ada yang ingin bertransaksi jual dan/atau beli motor bekas, tak ada salahnya untuk menjadikan usaha jenis ini sebagai salah satu opsi.

Bahkan di Banjarmasin, tidak hanya motor lagi yang dijual di kaki lima, tapi juga mobil, lihat saja di daerah depan RRI Banjarmasin itu, hampir tiap hari terlihat jejeran mobil yang dijual oleh para pemiliknya.

Yang namanya usaha, memang banyak jalannya, termasuk salah satunya beli-jual motor di kaki lima ini. Kaki lima tidak lagi sekedar menjadi tempat barang-barang kecil, tidak juga rupa-rupa barang murah meriah, tapi sudah memasuki wilayah bisnis otomotif. Luar biasa.

-----
Catatan:
Tulisan ini merupakan tulisan lama pada blog pakacil dot com dengan tanggal sebagaimana adanya, yang sudah tidak aktif lagi, namun kemudian tulisannya dipulihkan.

Dan nampaknya saat ini sudah tidak terlihat lagi itu yang sebagaimana pada tulisan.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!