Kota Banjarbaru Jadi Daerah Broker Saja

Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan seseorang yang kebetulan menjadi seorang kepala bagian di salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan. Dalam obrolan sampai pagi tersebut, beliau bertanya, "…dari mana sebenarnya sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Banjarbaru yang nampak terus mengingkat itu? Padahal Banjarbaru tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan dan tidak sebesar Kota Banjarmasin…"

Berawal dari pertanyaan itulah obrolan berkembang ke banyak sisi, termasuk tentu saja isu-isu seputar pemilihan walikota Banjarbaru 2010 nanti, soal ini memang selalu menarik bagi sebagian orang di Banjarbaru. Obrolan lebih mengarah pada diskusi dalam bentuk studi kasus beberapa hal di kabupaten beliau dan di Banjarbaru, sepanjang yang saya tahu tentu saja.

Banjarbaru, menurut laporan profile ekonomi Kota Banjarbaru yang saya miliki, sebagian besar PAD-nya ditumpukan pada Pajak dan Retribusi Daerah, memang harus terus berbenah. Pada kesempatan obrolan itulah, saya sampaikan kembali kepada beliau sebuah usul usil saya untuk menjadikan Banjarbaru ini sebuah daerah broker di Kalimantan Selatan.

Sebenarnya, celetukan ‘daerah broker’ ini juga pernah saya sampaikan kepada salah satu pejabat eselon II di Kota Banjarbaru, yang saat ini masih aktif. Alasannya sederhana, karena Banjarbaru tidak memiliki potensi dalam bentuk sumber daya alam sebagaimana daerah lain di Kalimantan Selatan, tidak pula memiliki luasan wilayah sebagaimana daerah lain di Kalsel ini. Bahkan saya pribadi merasa sangat bersyukur Banjarbaru tidak memiliki SDA dalam bentuk batu bara misalnya, atau ada luasan lahan yang memungkinkan dijadikan perkebunan sawit.

Bagi saya keunggulan Banjarbaru justru dimiliki oleh posisi geografisnya. Saya sangat sepakat dengan hal ini yang juga telah berulang kali disampaikan oleh Pemko Banjarbaru sendiri.

Ya… Kota Banjarbaru terletak di perlintasan utama propinsi Kalimantan Selatan dengan akses bandara yang ada di Banjarbaru, serta akses yang sangat mudah menuju pelabuhan dari Banjarbaru. Mengingat 2 (dua) hal tersebut itulah, ketiadaan SDA dan posisi geografis, saya mengusulkan agar Banjarbaru dijadikan daerah broker di Kalimantan Selatan.

Posisi Strategis Kota Banjarbaru di Kalimantan Selatan
Posisi Strategis Kota Banjarbaru di Kalimantan Selatan
Saya tidak begitu peduli dengan istilah, kalaupun istilah daerah broker dirasa terlampau jalanan, maka silakan saja bagi yang senang berdebat soal istilah untuk onani dengan macam-macam istilah. Karena saya bicara substansi.
Banjarbaru dan posisinya, memungkinkan Banjarbaru untuk menjadi gerbang dan etalase bagi Kalimantan Selatan. Contoh yang akan saya berikan hanya untuk dua hal. Banjarbaru dapat menjadi sentra etalase produk kabupaten lain di Kalimantan Selatan. Tentang hal ini bisa jadi akan terdapat dua format, yakni lokasi dan event. Banjarbaru dapat mengambil inisiatif.
Namun untuk hal ini, jangan bicara soal keuntungan bagi Kota Banjarbaru secara instan, karena kita tidak bicara soal membuat mie instant atau main sulap. Apa yang dibicarakan adalah sebuah proses dan efek domino yang akan ditimbulkannya bagi Kota Banjarbaru.

Contoh kedua yang saya sampaikan adalah dalam bidang pariwisata. Tentu saja hal ini didasarkan pada kepedulian saya pribadi tentang seni budaya Kalimantan Selatan. Banjarbaru, dalam benak saya harus dapat mengambil inisiatif sebagai daerah pelestarian dan pengembangan budaya Banjar. Lagi-lagi efek domino atas hal ini

Banjarbaru tidak perlu memiliki segala sesuatu untuk berkembang, namun Banjarbaru dapat menggunakan kelemahan tersebut menjadi sebuah kekuatan. Banjarbaru dapat menggunakan keunggulan daerah lain di Kalimantan Selatan untuk kepentingannya.

Dan secara normatif, sebagaimana mafhumnya ragam ide lainnya, tentu saja pengelolaan dan pengembangan yang tepat menjadi kunci utama. Pengelolaan tidak dapat dijadikan semacam rutinitas belaka. Tidak cukup dijadikan sekedar dijadikan program rutin Pemerintah Kota Banjarbaru, karena dalam implementasinya memerlukan kegesitan pengelolaan dan pengembangan.

Obrolan sampai pagi dengan salah satu kepala bagian di hulu sungai itu juga kian menyakinkan saya. bahwa sebenarnya peluang untuk menjadikan Banjarbaru sebagai etalase Kalimantan Selatan, mengingat berbagai kendala yang mereka miliki. Keuntungan sebenarnya tidak hanya akan dimiliki oleh Banjarbaru, namun daerah lain di Kalimantan Selatan. Simbiosis mutualisme-lah.

Jika ada yang mengatakan bahwa pemikiran ini telampau mentah, maka akan saya katakan iya, benar. Pada dasarnya ini adalah sebuah stimulus bagi saya pribadi untuk selalu concern dengan perkembangan Banjarbaru. Saya juga selalu berusaha mengkomunikasikan ragam hal tentang Banjarbaru dengan sejumlah unsur di Banjarbaru, terlepas dari dipakai ataupun tidak. Dipakai yang syukur, tidak dipakai pun tidak masalah.

Pemikiran mentah ini memang harus dipikirkan lebih jauh, lagi pula sebenarnya telah ada konsep² lebih mendetail tentang hal yang tersebut diatas, namun tetap saja masih memerlukan analisa yang lebih dalam. Karenanya, kalau ada yang mau ikutan memikirkan yaa lebih bagus, mengkritisi juga oke bahkan perlu. Namun dalam perhatian utama saya, tetap harus mengacu pada dua kunci utama, yakni proses dan efek domino.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru