Tanya & Protes Dulu! Baca Kemudian!

Konon pada suatu hari, di sebuah ruang kerja, oleh seorang rekan saya pernah dikutuk dan dikatakan kurang tuntas membaca petunjuk pada kemasan ponsel. Pangkal masalahnya adalah, saya kebingungan untuk mengetahui jenis kartu ingatan (baca: Memory Card) yang sesuai untuk produk tersebut.

Bolak-balik saya baca manual yang ada, tetap saya tidak menemukannya. Hal tersebut membuat saya membuka website resmi produsen untuk mencari spesifikasi teknis produk dimaksud. Belum tuntas berselancar, sang rekan ternyata menemukannya pada kemasan alias kotak.

Saya terkekeh dan mohon dimaklumi kalau suatu waktu terlewat akan hal itu. Toh tulisannya kecil-kecil persis tulisan "syarat dan ketentuan berlaku" itu. Demikian apologi yang saya keluarkan.

Satu lagi kebiasaan saya jika menemukan brosur yang menarik adalah selalu berusaha membaca dan memahami semua yang tertera padanya, setelah menilai ada hal-hal yang saya rasa kurang saya fahami, barulah berusaha mencari tahu dengan jalan bertanya kepada pihak berwenang. Brosur menarik di sini pengertiannya sangat berbeda dengan tukang bagi brosur yang menarik yang kerap berada di mall-mall itu. Kalau tukang baginya yang menarik, bisa jadi tak perlu membaca sudah langsung bertanya itu dan ini. Hitung-hitung sekedar memperpanjang tali silaturahmi atau memperlebar sayap pergaulan.

Hal ini membuat saya membayangkan kerja para customer service (CS), yang merupakan front-liner yang berhadapan dengan end-user secara langsung. Bayangkan saja, kira-kira dalam sehari harus berapa kali menjawab pertanyaan yang sama namun diajukan oleh orang-orang yang berbeda.

Apalagi karena sang CS ternyata menarik. Wahh.. jangan-jangan tak perlu baca informasi tertulis, yang penting bisa ngobrol dan bertanya, urusan informasi yang ditanyakan itu sudah tertulis atau belum itu adalah urusan belakangan. yang penting ngobrol. Sementara sang CS tidak mungkin memperlihatkan wajah bosan dan berkerut untuk kemudian menjawab, "Silakan dibaca sampai selesai Pak / Bu, semua sudah tertulis di situ".

Kecuali pertanyaannya bersifat pribadi, tentu tak tersebutkan pada lembaran informasi, misalnya pertanyaan, "Maaf, saya sama sekali bukan bermaksud lancang, tapi apa boleh saya mengajak makan siang atau malam?". Nah, jawaban atas pertanyaan macam ini hampir dapat dipastikan tidak tertera pada lembar informasi apapun. Namun kalau jawabannya bikin tengsin, ya itu masalah lain.

Mungkin bisa jadi masalah besar kalau budaya tanya dan protes dulu baru baca ini tidak dirubah pelan-pelan di tengah masyarakat yang budaya tuturnya lebih kental dari pada budaya baca. Paling tidak, bisa jadi para CS dan profesi lain yang deskripsi kerjanya sama akan menuntut kenaikan gaji yang signifikan, karena memang sangat mungkin bikin pusing kepala plus bisa bikin kesal. Karena itu pulalah, dengan sadar diri saya memutuskan untuk tak pernah menjadi seorang CS.

Saya hanya selalu mencoba: Baca dulu, tanya belakangan!

*Sumber gambar: raindropmemory.deviantart.com

Komentar