Haruskah Pindah ke Jalan?

Sekelompok anak kecil itu bermain bola di sebuah lapangan di sudut jalan sebuah perumahan. Sore hari yang cerah membuat semua terasa pas. Lapangan pasir yang jelas berdebu tak mengurangi semangat serta canda tawa mereka. 8 orang anak dengan tiga buah bola. Seorang anak menjadi penjaga gawang yang tiangnya entah terbuat dari batang kayu apa.

Suatu sore yang cerah, saya berhenti untuk sejenak menyaksikan yang mereka lakukan. Sekelebat teringat apa yang juga dulu saya lakukan bersama kawan-kawan sepermainan. Namun beberapa hari yang lalu, pada saat yang bersamaan, di suatu sore yang cerah, saya takut akan sebuah bayangan masa depan.

Sembari tersenyum menyaksikan apa yang mereka lakukan, saya yang berada di pinggir jalan agak jauh dari lapangan tempat mereka bermain, saya coba mengambil gambar keceriaan itu seadanya dengan kamera pada ponsel. Saya tersenyum bahagia dengan sedikit dibumbui nuansa romatisme masa kecil. Namun itu tak bertahan lama, ada getir terasa.

Karena beberapa hari sebelumnya, saya ditawari oleh seorang rekan, siapa tau saya berminat untuk mencicil sebuah rumah yang lokasinya masih terhitung masih di tengah kota Banjarbaru. Lokasi yang persis berada di tempat sekelompok anak kecil itu tengah bermain bola.

Lapangan tempat bermain itu akan menjadi sebuah kawasan pemukiman baru, dan lapangan itu entah akan bergeser ke arah mana, sebab angin tak mungkin sanggup membawanya dan meletakkannya di mana anak-anak akan merasa bahagia. Tidak perlu menunggu hingga 10 tahun ke depan, lapangan itu sudah akan hilang.

Bayangan yang datang terus memburuk. Tiba-tiba saja semua kawasan perumahan tak memiliki kawasan terbuka untuk tempat bermain anak-anak. Semua sudah berubah dan menjelma menjadi ragam bangunan kokoh. Sebab konon para pengembang juga bekerja dengan cara yang mereka bisa, demi memberi nafkah bagi anak-anak mereka.

Konon telah diatur bahwa setiap pengembang itu hanya diperkenankan untuk membangun sebanyak persentase tertentu sementara sisanya wajib digunakan untuk fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos).

Sempat terdengar oleh telinga saya, bahwa pada salah satu daerah di Kalimantan Selatan ini tidak mencantumkan secara jelas mengenai persentase pembagian kawasan ini saat memberikan ijin bagi para pengembang. Tidak ada diktum yang khusus menyebutkan hal itu. Saya hanya berharap bahwa apa yang saya dengar ini adalah sebuah kekeliruan pendengaran, karena rasanya cukup aneh kalau hanya mendasarkan hal semacam itu kepada sesuatu yang bernama kesadaran dan kepedulian.


Namun akhirnya, kali ini saya harus berprasangka baik saja. Bahwa para pengembang tidak sekedar mengedepankan keuntungan semata. Mereka masih memperhatikan fasum dan fasos. Mereka sadar kok, bahwa fasos itu bukan semata-mata untuk memenuhi kewajiban, namun lebih kepada tanggung jawab moral dan sosial. Saya yakin para pengembang itu mengerti apa itu Koefisien Dasar Bangunan, Koefisien Luas Bangunan dan lain-lain hal terkait itu. Mereka juga akan mengingatkan jika ada pemerintah daerah yang lupa mencantumkan aturan terkait secara jelas dan tegas tentang hal ini.

Berharap pada seluruh caleg? jelas mustahil. Masih banyak diantara para caleg di daerah ini yang tak mengerti sepenuhnya apa itu legislasi. Padahal itu tugas pokoknya. Apalah lagi persoalan detil macam ini. Lagi pula mereka masih sibuk meraih suara, masih pusing tebar pesona. Jangan ganggu konsentrasi mereka dengan menyampaikan bahwa banyak beban berat yang harus dipikul jika terpilih nanti. Bisa-bisa malah runtuh semangat mereka untuk mewakili kita kalau mengerti betapa rumitnya persoalan yang akan dihadapi yang sebenarnya memerlukan pengetahuan dan kemampuan analisa.

Saya hanya berharap baik, sehingga saya tak perlu takut, kalau lantunan syair lagu Iwan Fals akan menjadi kenyataan, bahwa sepak bola akan menjadi barang yang mahal, milik mereka yang punya uang saja, yang mampu sewa lapangan. Sebab sudah ada tidak ada lapangan dan akhirnya anak-anak akan turun ke jalan untuk sekedar mengisi waktu di sebuah sore hari yang cerah sambil bertelanjang kaki riang mengejar bola.

Komentar