Banjarbaru di Kepala Saya (Jilid 02)

Kembali tentang kota tercinta saya, Banjarbaru, setelah sebelumnya berbagi sedikit cerita melalui Banjarbaru di Kepala Saya edisi 01. Banjarbaru yang pasti akan kian ramai dan bisa saja menjadi sesak, jauh lebih sesak dari pada yang mungkin pernah saya bayangkan.

Kota yang cuma memiliki 1 lampu merah kata Amed, tapi sudah jadi digital itu lanjutnya. Banjarbaru yang mungkin gemar membongkar sejarah kotanya, kata Pak Ben. Tapi jelas, Murjani itu tak pernah sepi kata Aap.

Namun pasti Banjarbaru akan kian ramai, dan itu tak lama lagi.

Satu Sudut Kota Banjarbaru
Banjarbaru bukanlah sebuah kota kecil, demikian kata seorang teman dari Departemen Pendidikan Nasional sana, sewaktu saya mengajaknya berputar sebentar di tengah malam di Banjarbaru setelah pagi hari mengantarkannya melakukan pemeriksaan pada sebuah kabupaten di Kalsel ini. Ah, ada bangga terasa, tapi jelas tak terucap, karena memang saya mencintai daerah ini.

Banjarbaru, dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi pusat kota pemerintahan propinsi Kalimantan Selatan, sementara status ibukota tetap berada di Banjarmasin. Tidak masalah soal status, karena secara de facto nantinya pusat pemerintahan -yg jelas beserta manusianya- akan beraktifitas di Banjarbaru. Perpindahan manusianya ini yang menjadi perhatian utama saya.

Dasar pemikiran yang sama saya gunakan saat berbicara tentang sejumlah instansi Pemerintah Kabupaten Banjar yang masih berada di Banjarbaru. Sudah cukup sering saya berucap bahwa jika saya menjadi walikota, saya tidak akan pernah berusaha untuk menganjurkan instansi-instansi tersebut untuk pindah dari Banjarbaru. Bahkan kalau perlu, instansi lainnya berkantor di Banjarbaru saja dan sedapat mungkin akan saya berikan lahan. Yang jadi masalah, kapan saya jadi Walikotanya.

Dasar pemikiran tersebut adalah soal perpindahan manusia yang kemudian akan diiringi oleh banyak faktor ke lingkungan barunya di Banjarbaru sini. Baik itu persoalan ekonomi, sosial budaya dan lain-lain. Secara ekonomi Banjarbaru jelas diuntungkan dengan kian banyaknya perpindahan manusia dengan pekerjaan jelas ke Banjarbaru. Sosial budaya? saya tak begitu khawatir, karena Banjarbaru adalah daerah paling heterogen di Kalimantan Selatan.

Gunakan hitungan sangat sederhana saja, misalnya 1 orang pegawai makan siang seharga Rp 5000,-, maka jika ada 100 orang pegawai Pemprop yang makan siang, akan ada tambahan Rp 500.000,- uang berputar di Banjarbaru. Setelah dipotong keuntungan -anggap saja misalnya 5%- atau senilai Rp 25.000,- dan sisanya dibelanjakan bahan masakan oleh pemilik warung di Pasar Banjarbaru, uang tersebut akan terus berputar-putar. Ini hitungan yang teramat sederhana dan teramat kasar, tapi paling tidak itulah gambaran yang ada di kepala saya tentang Banjarbaru dan pusat Kota Pemerintahan Prop. Kalimantan Selatan nantinya. Belum lagi efek tak langsung dari mereka yang berurusan di pusat pemerintahan propinsi Kalimantan Selatan.

Kalau soal lainnya, sebuah Lembaga Pemasyarakatan alias Lapas Kelas I juga tengah di bangun di Banjarbaru. Nah, nantinya akan banyak napi baru yang menjalani pendidikan -kalau istilah saya- di Banjarbaru, baik napi pindahan atau pendatang baru. Soal makannya juga bisa bawa untung bagi Banjarbaru. Tak percaya? Nah, kalau soal ini agak panjang. Jangan kaget kalau baru tau persoalan makan rekan-rekan napi ini menyangkut proses pengadaan barang/jasa yang saya pernah juga teken kontraknya.

Banjarbaru jelas akan kian sangat ramai. Kota yang berdempet erat dengan Martapura, ibukotanya Kabupaten Banjar ini memiliki warnet yang banyak. Apalah lagi orang jualan pulsa, jelas lebih banyak dari pada penjual pisang goreng. Seorang General Manager (GM) jaringan ritel nasional tak lama lalu juga pernah bercerita bahwa mereka tengah melakukan analisa dan negosiasi untuk buka cabang baru di Banjarbaru. Jelas mereka melihat ada potensi di Banjarbaru.

Apalagi ya...

Oh ya, sementara ini ada kabar Banjarbaru juga akan dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) regional. Heh??? Banjarbaru akan menjadi penampung sampah dari sebagian wilayah Kab. Banjar, Banjarmasin dan Banjarbaru sendiri? waduhh.. nanti dulu kalau yang ini. Konon kabarnya Pemerintah Kota Banjarbaru juga tengah memikirkan serius persoalan ini. Saya tidak tau, lagi mikir-mikir nolak atau mikir-mikir untuk menerima. Beda halnya dengan perempuan, kalau menyatakan pikir-pikir dulu pada seorang lelaki, maka hampir dapat dipastikan itu adalah cara halus sebuah penolakan.

Namun yang jelas, secara pribadi saya menerawang, kalau semua didasarkan pada kondisi obyektif, dengan analisa yang kredibel serta menganut azas win-win solution, serta jelas tidak merugikan masyarakat, apapun keputusannya saya mendukung.

----
nah, berhubung download-an saya selesai, maka sementara cukup sampai di sini dulu.
Saya tetap akan bercerita tentang Banjarbaru di kepala saya pada edisi berikutnya.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Depot Abu Nawaf: Masakan Arab di Banjarbaru