Seragam dan Teknik

"Aduhh.. ternyata mereka mengenakan seragam panitia!" Itu adalah kalimat yang terlontar dalam kepala saya, bertahun-tahun lalu, saat masih berada di Bandung. Kalau tidak salah hari adalah Hari Minggu, 28 April 1996, namun saya tak turut ayah ke kota untuk naik delman istimewa. Karena seingat saya saat itu bertepatan dengan Hari Raya Idul 'Adha 1416 H, yang kalau tidak salah juga bertepatan dengan mangkatnya Ibu Tien Soeharto. Namun, ini bukan tentang beliau.

Sumber: pixelkit.com
Bukan hal yang aneh kalau keluar rumah mengenakan pakaian biasa dan kemudian membawa senjata tajam pada momen seperti Idul Adha itu. Bahkan perampok bersajam pun bisa jadi dikira sebagai petugas jagal sapi atau kambing. Saya? Saya sendiri kala itu keluar dari rumah dengan mengenakan celana yang terbuat dari karung terigu serta mengenakan baju kaos biasa yang mereknya jelas memudar bersama ingatan.

Bukan lantaran sebilah belati yang telah terasah tajam dan terselip di pinggang yang membuat saya berjalan dengan cukup gagah, paling tidak itu menurut saya. Namun sebuah perasaan senang dan bahagia, bahwa hari itu adalah hari raya kurban. Bahwa hari itu, pisau saya akan melaksanakan tugas sucinya memisahkan kulit sapi atau kambing dari dagingnya, dan kemudian memisahkan dagingnya dari tulangnya.

Diiringi keyakinan, bahwa jalan yang saya tapaki masih berbendera Merah Putih, yang konon tak boleh kita mengapresiasi sang saka itu dengan cara yang kita mau selama masih cinta, serta keyakinan bahwa mereka yang tinggal di sisi kanan dan kiri gang kecil itu juga masih menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang menurut seorang pakar harusnya dinyanyikan 3 stanza, saya terus melangkah, tegap. Satu... dua.. kiri... kanan... kiri.. kanan...

Jelas saya ketahui, bahwa yang berbeda hanyalah bahasa daerah yang digunakan, kalau saya menggunakan bahasa Banjar, maka mereka menggunakan bahasa Sunda. Selebihnya adalah sama, mereka belum bisa bahasa Banjar dan saya belum bisa bahasa Sunda. Sama bukan?

Yaa... kerumunan massa sudah terlihat mengelilingi sebuah lapangan voli yang menjadi sebuah TKP atau Tempat Kurban di Potong-potong hari itu. Sebuah lapangan yang berpagar. Luar biasa, saya akan beraksi di hadapan massa, saya akan memainkan pisau saya dengan lincah dan mempesona, sekalipun belum sempat saya melakukan perhitungan sementara, berapa kiranya jumlah mahasiswi yang berada di sana. Saya terus berjalan dan kian mendekat. Ah... tak lama lagi kiranya...

Namun, saya terkesiap...
Aduhh.. ternyata mereka mengenakan seragam panitia !!!

Ternyata bapak-bapak dan saudara-saudara yang berada di tempat itu mengenakan seragam khusus, berwarna biru kombinasi putih. Dengan gagahnya dipunggung mereka tertulis: PANITIA QURBAN 1416 H.

Ternyata efek seragam luar biasa dahsyat, bentuk, corak dan warna seragam sungguh mempengaruhi. Belumlah lagi kalau ditambahkan tulisan yang tertera padanya. Kalau tak percaya, silakan bandingkan pemakai seragam jaket dengan tulisan PERSATUAN OJEK di punggungnya, dengan seragam Jaket yang bertuliskan POLISI di belakangnya. Efek seragam memang sungguh dahsyat.

Sekitar 10 menit saya tediam diluar pagar. Menyaksikan para pria bersegaram itu bekerja dengan gagahnya. Luar biasa. Namun, ternyata takdir tidak sekejam yang dilantunkan Desy Ratnasari. Tiba-tiba saja ada seekor kambing yang digantung dan belum ada yang menggarapnya. Jadilah saya, seorang lelaki muda yang mengenakan celana dari kain karung terigu, berbaju kaos dengan belati terselip dipinggang berjalan ke tengah gelanggang. Dengan 3/4 keyakinan, berjalan menuju kelompok bapak-bapak dan saudara-saudara yang jauh lebih tua itu.

"boleh saya bantu Pak ...." saya menunjuk seekor kambing yang sudah tergantung.
"Ohh.. bisa Mas?" jawab seorang bapak.
"waktu di Kalimantan sih pernah Pak..." jawab saya.

Sungguh mengharukan, pisau saya kemudian melaksanakan tugas sucinya. Srett... srett... perlahan namun pasti, kulit sang kambing terpisah dari dagingnya. Tak lama berselang, entah melihat saya nekad turun gelanggang untuk berusaha menjadi seorang ksatria, 2 - 3 orang mahasiswa juga tiba-tiba datang ke gelanggang dan menghampiri saya.

" Saya bantu mas... " ucapnya.
" Oh.. iya.. silakan... " jawab saya.

Bahagia, ternyata tanpa seragampun saya bisa. Pisau saya bisa berbicara dengan bahasanya. Srett.. srett....

Memang, menguliti kambing itu lebih mudah dari pada sapi. Bahkan, hanya dengan bermodal jempol saja, sudah bisa menguliti seekor kambing. Tapi ada teknik menguliti kambing yang selalu membuat saya senang dan geli melihatnya.

Teknik itu adalah teknik memompa kambing yang baru saja saya saksikan lagi. Kulit kambing akan cepat terpisah dari dagingnya. Jangan khawatir, tidak akan ada bagian tertentu dari kambing itu yang akan meletus.

Sudut lainnya...
Saya memang tak memakan daging (sapi/kambing) yang berasal dari hewan yang diqurbankan. Terlepas dari saya berseragam atau tidak, tetap saja saya tidak memakannya., sekalipun bagi sebagian orang seragam mampu membuat pola konsumsi berubah.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!