Saya Tahu Rasanya

Dulu, sewaktu kecil, rumah saya, maaf maksudnya rumah orang tua saya, berbentuk agak panggung. Maksudnya agak tinggi. Kurang tepat saja rasanya kalau rumah bukan dari kayu sekalipun tinggi tetap disebut rumah panggung. Mungkin sampai saat ini, kecamatan tempat saya tinggal pada masa kecil itu, seringkali kebanjiran, namun seingat saya dulu tidak sampai masuk ke dalam rumah seperti yang dirasakan seorang kawan saat ini.

Air setinggi hampir 1 meter itu hanya sampai di pekarangan, dan tidak sampai ke atas teras. Saya tidak tau kalau itu adalah sebuah musibah, yang saya tau persis itu adalah sebuah kesempatan berharga untuk berbasah-basah mandi di kala banjir. Sebuah kesempatan lain untuk bergembira.


Sekali waktu, tengah asyik bermain banjir, saya tergesa-gesa lari menuju teras. Oh ya, kenapa dikatakan lari? karena kaki saya masih sanggup menyentuh tanah dan tidak mengambang. Jelas pula tak cukup untuk menyelam dalam. Saya berusaha keras untuk dapat mencapai teras secepat mungkin, karena jelas, nyali saya untuk mendekati benda hidup meliuk-liuk geli di permukaan air itu tidak sebesar nyalinya meliuk mendekati saya. Sudahlah, biar saya saja yang mengalah.

Saya berusaha keras berlari membelah air sembari berteriak, "Ulaaaaaaaarrr....!"

Seingat saya Abah menyerbu ke ke teras dengan membawa senapan angin. Dorrr !!! peluru melesat keluar dari senapan angin. Saya tidak tau apakah peluru itu tepat mengenai sasaran. Saya yakin, tak perlu telak, cukup mengenai pelipisnya saja maka sang ular akan kapok dan akan meliuk terbiri-birit.

Masih di kampung yang sama pada kesempatan lain di musim kemarau

Sungai saat itu mengering, sungguh tak ada air sedikit pun. Yang terlihat adalah tumpukan dedaunan kering menguning dan juga sedikit aksesoris tambahan akibat sampah yang dibuang sembarangan. Saya tengah berjalan seorang diri di tepiannya setelah sebelumnya ke pasar yang jaraknya tak jauh dari rumah. Tak sampai sepeminuman teh kalau kata Wiro Sableng.

Entah karena apa, tiba-tiba saya tergelincir dan terguling ke dasar sungai. Bumm... !!! tubuh saya terhepas, terbaring, lemah namun masih berdaya. Saya duduk, masih terdiam. Ooo... begini rupanya rasanya...

Pada kali lain, entah karena pasal apa saya ribut dengan seorang kawan kecil. Masih di kecamatan yang sama, dan masih tak jauh dari rumah. Di bawah sebuah pohon rindang tak jauh dari sebuah jembatan. Kami berdua berjibaku, saling tukar pukulan. Bak... buk... dan ekkk.. saya terkena sebuah hantaman telak.

Saya terhempas dengan pantat mendarat mulus di tanah, di bawah sebuah pohon rindang depan puskesmas. Harga diri ikut terhempas rasanya, dipukul jatuh seorang musuh. Saya terduduk, terdiam sejenak. Saya menjadi tau. Ooo... begini rupanya rasanya...

Dengan berbekal prestasi sebagai murid pertama yang bisa membaca di kelas I SD, tentu saya sudah mendengar tentang banyak hal. Termasuk di dalamnya sebuah kosa kata keren : PINGSAN. Kata yang begitu dramatis rasanya namun sesungguhnya tak saya ketahui persis bagaimana yang namanya pingsan itu. Tapi saya tau, kalau orang pingsan itu tak bisa melakukan apa-apa.

Karena itulah, dengan bangga saya bisa bercerita di rumah, bahwa saya PINGSAN !!!

Saya pingsan setelah tergelincir di sungai dan setelah dirobohkan lawan tanding. Ya.. saya pingsan, karena saya tak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya duduk dan terdiam. Tak melakukan apa-apa. Saya tau, rupanya begitulah rasanya pingsan.

Pingsan, sebuah kesimpulan dramatis pertama yang pernah saya buat dan masih saya ingat.

Begitulah kalau anak kecil mengambil kesimpulan, tak perlu dicerna dan diperdebatkan kebenarannya.

*Gambar: IconArchive

Catatan:
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama (pakacil.net) yang sekarang sudah tidak aktif lagi.

Komentar