Jangan Pertaruhkan Nasib Kami!

Dengan langkah canggung dia berjalan menyusuri koridor bangunan yang megah itu. Pantulan suara langkah kakinya dirasa menggema setiap telapak kakinya menghentak dihalus-haluskan pada lantai marmer yang licin tersebut. Suara pantulan itu seperti sengaja mencoba membentuk resonansi dengan degub gugup jantungnya. Karena ini adalah untuk yang pertama kalinya ia berkunjung ke gedung tersebut.

Tahun 1991, itu yang ia ingat. Gedung itu sudah terlihat sangat megah, dengan penghuni orang-orang yang berpakaian rapi serta hampir selalu mengenakan safari atau jas. Ia terus mencoba menenangkan diri dari rasa grogi. Sebagaimana yang pernah ia dapatkan, bahwa grogi tidak akan pernah bisa membantu menyelesaikan masalah.

Ruang Sidang Utama DPR/MPR-RI
Koridor sunyi telah dilaluinya, Lega rasanya ia sudah tak mendengar pantulan suara langkah kaki di dinding beton yang menopang atapnya yang sungguh sangat khas itu. Berkurang sudah faktor pendukung resahnya karena pengalaman pertama itu.

Siang hari, disuatu waktu pada 1991. Ia menuju sebuah pintu yang terlihat besar dan lebar. Sempat ia menduga bahwa pintu itu cukup berat untuk dibuka seorang diri. Namun entahlah bagaimana pastinya, karena saat itu pintu tersebut sudah terbuka, seakan berkata, silakan masuk....

Kakinya memasuki ruangan yang hanya kerap dilihatnya melalui siaran televisi tersebut kini telah terpampang jelas di depan matanya. Ruangan yang memiliki deretan kursi dan meja dengan susunan yang khas itu kini tergambar jelas dan nyata, karena ia telah berada di dalamnya.

Hal lain yang membuatnya gembira adalah, kini jantungnya tak lagi berdegub saat melangkahkan kaki. Sesaat langsung disadarinya, bahwa ia kini melangkah di atas hamparan karpet yang sungguh tebal. Beberapa sentimeter sepatunya melesak ke dalam hamparan karpet tebal tersebut sehingga membuat tak ada lagi pantulan suara yang menambahkan rasa gugup dihatinya.

Perlahan namun pasti ia terus berjalan dan duduk di deretan kursi nomor dua dari depan.

Sekali lagi ia merasa tenggelam dalam empuknya kursi yang bisa berputar-putar itu. Umaiii... begitu rasanya duduk di kursi empuk dan bisa berputar-putar. Bagi yang tidak terbiasa mungkin bisa mengakibatkan pusing-pusing. Mungkin karena itulah dalam bahasa melayu, berputar itu padanannya adalah berpusing, putar-putar itu sama dengan pusing-pusing.

Setelah beberapa waktu berada di ruangan itu, matanya tertumbuk pada sebuah benda berbentuk burung yang memiliki ukuran sangat besar, sungguh teramat besar. Berwarna gelap, bukan kuning keemasan sebagaimana selalu dilihatnya dalam gambar dan ukuran kecilnya. Burung besar itu membentangkan sayap dengan gagah. Seakan menaungi mereka yang berada di bawahnya. Karena di bawah burung yang konon memiliki bobot lebih dari 1 ton itu, berderet lagi kursi-kursi yang lebih tinggi. Jelas untuk mereka yang memiliki posisi yang khusus pula. Bukan sembarang orang yang duduk di deretan atas itu.

Demi melihat burung dan deretan kursi itu, ia berpikir, bagaimana seandainya burung tersebut merasa marah dan kecewa terhadap apa-apa yang dilakukan oleh mereka-mereka yang duduk di bawahnya, lantas ia menjatuhkan diri dan menghepas tepat di atas kepala mereka. Sungguh, tentu berita macam itu akan jauh heboh dari pada berita runtuhnya sejumlah bangunan sekolah.

Pikiran usil tersebut segera diusirnya jauh-jauh, karena kini ia kembali sibuk merasakan kursi empuk yang bisa berputar itu. Mengantuk rasanya, duduk diruangan dingin dan nyaman itu. Ia menjadi maklum, kalau kemudian banyak yang tertidur saat berada di sana.

Ahh.. mungkin tak banyak yang bisa diingatnya tentang suatu hari pada tahun 1991 itu. Ia yang kini tengah mencoba menuliskannya kembalipun tak bisa mengingat sepenuhnya apa saja yang terjadi dan dibicarakan saat itu. Hal terakhir yang ia ingat adalah, setelah semuanya selesai, ia bergegas meninggalkan ruang sidang utama MPR-RI tersebut, mungkin karena khawatir ketagihan namun tak memiliki kemampuan.

Kini, suatu hari di penghujung 2008, saya melihat sejumlah orang yang saya tau persis, mencoba untuk masuk dan menjadi penghuni ruangan yang saya kunjungi pada tahun 1991 itu. Itu adalah hak kalian, dan saya hanya berharap ...

Semoga kalian mengerti apa yang kalian lakukan dan memahami nasib siapa yang sesungguhnya kalian pertaruhkan ...

Komentar