Jadi Penikmat Saja

Akibat senang keluyuran kesana-kemari, pada suatu kesempatan perbincangan dengan fungsionaris beberapa partai, pernah dimintai pendapat dengan embel-embel sebagai pengamat.

Dengan tegas saya menjawab, "Waduh Pak, tolong jangan sebut saya sebagai pengamat. Saya tidak memiliki kapasitas untuk menjadi pengamat. Lagi pula kalau harus menjadi pengamat, saya akan pusing karena harus terus mengamati dan kalau pengamatan saya salah akan lebih berbahaya. Lebih baik menjadi penikmat saja. Tidak perlu pusing-pusing. Mau salah atau benar, yang penting saya bisa menikmati".

Kadang kala menjadi pengamat memiliki prestise tersendiri. Pengamat politik, pengamat pendidikan, pengamat ekonomi dan pengamat lainnya. Kemudian berkembang menjadi pengamat yang lebih khusus, mungkin bernama pengamat politik timur tengah yang khusus mengamati perpolitikan di daerah timur tengah, pengamat perbankan yang khusus mengamati soal-soal dunia perbankan. Bukan tidak mungkin profesi ini akan semakin mengerucut, menjadi pengamat konflik arab-israel, pengamat kesejahteraan guru, pengamat kejahatan perbankan, dll.

Mungkin saja, yang entah kapan, akan muncul pengamat para pengamat, yang pekerjaannya adalah mengamati para pengamat. Setidaknya ini sudah terjadi pada Roy Suryo yang mengaku sebagai pengamat IT, yang kemudian oleh beberapa orang dikembangkan sebuah situs yang khusus mengamati Bapak Roy Suryo, baik pernyataan maupun pekerjaanya.

Pengamat, mungkin memiliki banyak padanan kata dengan konotasi yang hampir mirip semisal pemerhati, pemantau,dll. Banyak orang dan organisasi yang memposisikan diri sebagai pengamat dari hal-hal tertentu yang menjadi kelebihan atau profesinya. Memang untuk menjadi pengamat tidak harus selalu berprofesi sama dengan apa yang diamati. Namun ada kalanya seorang pengamat berasal dari dunia yang kemudian diamati. Tidak semua pengamat politik adalah praktisi partai politik, dan banyak pengamat pendidikan berasal dari dunia pendidikan.

Mungkin mudah dan mungkin pula sulit untuk menjadi pengamat. Apabila Anda cukup dekat dengan media, apalagi dengan seorang bos media, Anda hanya tinggal menulis atau tampil di media miliknya dan kalau bisa secara rutin, dan tunggu waktu saja, Anda akan ditasbihkan menjadi pengamat. Apalagi Anda muncul tidak hanya dengan tulisan Anda, tapi juga pada bagian berita, misalnya diberitakan Si A, yang juga menjadi pemerhati masalah X, melakukan ini dan itu. Kalau Anda sudah muncul pada segmen berita, maka yakinlah, kesempatan Anda untuk menjadi pengamat akan semakin besar dan diakui, setidaknya oleh sang pemilik media.

Apabila Anda tidak cukup dekat dengan media, maka percayalah, kesempatan Anda menjadi pengamat akan semakin sulit atau berat. Karena pengamat dan media memang memiliki sebuah hubungan yang unik dan saling menguntungkan. Kesimpulannya, Anda harus dekat dengan media untuk menjadi pengamat dengan mudah. Persoalan kapasitas diri Anda itu adalah persoalan lain. Karena banyak orang yang lebih mampu, lebih jujur dan lebih baik untuk memberikan pandangan terhadap sesuatu, namun karena tidak (-mau) terekspos media, maka belum sah untuk menyandang sebagai pengamat.

Kalau Anda sudah menjadi pengamat, maka jangan khawatir, akan ada kesempatan lain yang akan datang bagi Anda. Mungkin menjadi pembicara pada sebuah seminar, mungkin menjadi penasihat bagi seseorang atau sebuah organisasi. Tapi paling tidak tetangga Anda akan merasa bangga bahwa ia memiliki seorang tetangga yang menjadi orang tenar dan diakui publik. Itu pun masih dengan catatan bahwa Anda telah menjadi figur yang baik di masyarakat.

Bagi seorang pengamat, mengamati apa saja yang terjadi adalah sebuah keharusan. Ketinggalan sebuah informasi atau isu, akan sangat mempengaruhi pengamatannya. Namun bagi mereka yang mengenal dengan baik strategi komunikasi, maka hal itu tidak akan menjadi masalah. Karenanya syarat lain bagi Anda yang ingin menjadi pengamat adalah mengenal strategi komunikasi. Ini masih bisa dipelajari, karena ada ilmu komunikasi.

Pengetahuan, merupakan sebuah salah satu syarat utama lainnya bagi pengamat. Pengetahuan akan sesuatu dapat ditingkatkan melalui banyak cara, membaca, diskusi, atau mencari informasi di dunia maya dengan memanfaatkan berbagai mesin pencari seperti google, yahoo, accoona, dll.

Namun, ada syarat lain untuk menjadi pengamat ideal, dan ini tidak akan bisa dipelajari kecuali dipraktikkan, yakni kejujuran dan harga diri.

Apabila Anda ingin menjadi pengamat yang lurus, maka komponen kejujuran dan harga diri ini akan sangat berarti. Anda tidak akan dengan mudah menjadi "piaraan" atau titipan seseorang atau sekelompok orang. Karena tidak jarang terjadi, para pengamat menghasilkan sebuah pengamatan yang ternyata merupakan titipan dari seseorang untuk kepentingannya. Kalau seorang pengamat sudah dititipi ‘sesuatu’ oleh orang lain, maka tidak akan berbeda dengan seorang kurir yang bertugas mengantarkan barang titipan.
Memiliki kejujuran dan harga diri, akan membuat seorang pengamat menjadi indipendent, tidak berpihak, baik untuk kepentingan seseorang ataupun kepentingan sekelompok orang, bahkan mungkin tidak untuk kepentingan dirinya sendiri.
Mungkin, sekali lagi mungkin, pengamat jenis ini agak kurang jumlahnya, dan pada tingkat tertentu pengamat kelompok ini akan kurang "laku", karena biasanya mereka tidak datang kepada media untuk memperkenalkan diri.

Karena susahnya menjadi pengamat yang baik, akhirnya saya memutuskan hanya menjadi penikmat saja. Tidak ada syarat macam-macam, karena toh syarat utamanya adalah bisa menikmati sesuatu, dan saya yakin bisa.

Catatan:
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama (pakacil.net) yang diterbitkan pada tanggal yang sama namun sekarang sudah tidak aktif lagi.

Komentar