Entah Sampai Kapan Keyakinan Itu Ada

"Bagaimana Bang? Berikanlah kesempatan ini kepadanya, setelah itu, kita bisa atur posisi yang tepat untuk Abang..." Lelaki yang dipanggil abang itu tersenyum, diteguknya es teh, salah satu minuman favoritnya, dan kemudian meletakkan kembali gelasnya pada tatakan yang telah tersedia. Sejenak dipandangnya sang gadis, kemudian ia tersenyum.

"An...", demikian lelaki itu menyebut sepenggal nama sang gadis, "ini adalah sebuah permainan. Semua orang memiliki hak yang sama dalam permainan ini. Marilah kita bermain secantik mungkin dan lihatlah bagaimana hasilnya nanti". Lelaki itu menjawab sembari tersenyum dan sang gadispun tersenyum, samar terlihat kecut.

Rumah makan dengan lampu temaram, cahayanya kuning namun tak penuh, menu yang menggugah selera serta seorang gadis berwajah manis. Sungguh sebuah kombinasi makan malam yang tepat. Namun apa yang mereka bicarakan jauh dari hal-hal yang bersifat romantis. Tidak ada hubungan apapun diantara mereka, kecuali berasal dari dua buah kubu yang berseberangan sikap.
Politik, adalah sebuah seni yang indah bagi sebagian orang, tapi tidak bagi sebagian lainnya.
"Bagaimana Mas? Kita atur saja dengan anggaran yang ada ini. Tentu Mas juga mengerti, bahwa saya harus memberikan ke sejumlah pihak lainnya...", lelaki separuh baya yang menempati posisi cukup strategis di salah satu dinas di propinsi ini berkata pada seorang lelaki.

"Saya sudah mengerti apa yang Bapak sampaikan. Saya minta waktu untuk memikirkannya. 1 minggu, ya berikanlah saya waktu 1 minggu", ucap sang lelaki yang sesungguhnya sudah membuat keputusan dalam kepalanya. Sebuah percakapan ringan, jelas, langsung ke pokok persoalan pada salah satu sudut ruangan instansi pemerintahan. Percakapan itu diakhiri dengan sebuah jabat tangan, cukup erat, disertai sebuah janji untuk kemudian bertemu kembali.

1 bulan berselang, jelas lebih dari 1 minggu yang direncanakan, lelaki itu kembali ke tempat yang juga telah dijanjikan. Kedua orang itu kembali bertemu. "wahh... cukup lama, kemana saja?" lelaki paruh baya membuka percakapan.

"maaf sekali Pak. Mungkin Bapak juga sudah terima pesan saya tempo hari, bahwa saya harus ke luar daerah untuk beberapa waktu", ucap sang lelaki muda. Pertanyaan dan jawaban yang terjadi sembari berjabat tangan tanda pertemuan kembali dimulai.

Tanpa diminta, lelaki muda itu duduk dan mengambil posisi santai. Tangannya bergerak mengambil rokok dan korek dari sebuah kantong baju. Sebuah hisapan dalam diambilnya dan disambut dengan sebuah pertanyaan ringkas, "bagaimana? bisa kita sepakati yang kemarin itu?"

Lelaki muda tersenyum, "maaf Pak, mungkin baru kali ini bapak bertemu dengan rekanan seperti kami. Usul kami terkait pekerjaan ini, mungkin bapak lebih baik cari rekanan lain saja. Rejeki kami mungkin akan ada ditempat lain..." jawabnya. Kembali dihisapnya rokok dalam-dalam. Ia tetap tersenyum.

Setelah beberapa penggal dialog, yang jelas basa-basi, lelaki muda itu mengambil posisi berdiri. Mereka berdua bersalaman. Mereka berdua sama-sama tersenyum. Namun jelas, sang lelaki muda merasa bahagia menjalankan apa yang diyakininya.
Bisnis, adalah sebuah seni yang indah bagi sebagian orang, tapi tidak bagi sebagian lainnya.
Pada sebuah episode lain dalam perjalanan hidup sang lelaki ...

"kadang kita memang harus menari dalam pukulan gendang orang lain..." demikian ucap seorang lelaki yang jelas lebih tua, yang kini menjadi seorang kepala daerah di salah satu Kabupaten di Kalimantan Selatan. Lelaki muda itu, yang saat itu masih menjadi mahasiswa, tersenyum dan kemudian berujar,"benar Pak, saya sepakat. Namun saya juga bertanya, dapatkah Bapak mengajarkan saya cara memukul gendang?". Mereka berdua tertawa.
Politik dan bisnis adalah sebuah seni yang indah bagi sebagian orang, tapi jelas tidak bagi sebagian orang lainnya
dan saya, sampai saat ini masih percaya, bahwa apapun yang terjadi, politik, bisnis, serta banyak hal lainnya adalah bebas nilai. Baik dan buruk tidak melekat secara inheren padanya. Pelakunyalah yang mencemari seni itu. Polutan itu bernama mental korup dan arogansi kekuasaan.

dan saya memang masih meyakini itu semua, entah sampai kapan...

*Sumber gambar

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!