Pos

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Entah Sampai Kapan Keyakinan Itu Ada

Gambar
"Bagaimana Bang? Berikanlah kesempatan ini kepadanya, setelah itu, kita bisa atur posisi yang tepat untuk Abang..." Lelaki yang dipanggil abang itu tersenyum, diteguknya es teh, salah satu minuman favoritnya, dan kemudian meletakkan kembali gelasnya pada tatakan yang telah tersedia. Sejenak dipandangnya sang gadis, kemudian ia tersenyum.

"An...", demikian lelaki itu menyebut sepenggal nama sang gadis, "ini adalah sebuah permainan. Semua orang memiliki hak yang sama dalam permainan ini. Marilah kita bermain secantik mungkin dan lihatlah bagaimana hasilnya nanti". Lelaki itu menjawab sembari tersenyum dan sang gadispun tersenyum, samar terlihat kecut.

Rumah makan dengan lampu temaram, cahayanya kuning namun tak penuh, menu yang menggugah selera serta seorang gadis berwajah manis. Sungguh sebuah kombinasi makan malam yang tepat. Namun apa yang mereka bicarakan jauh dari hal-hal yang bersifat romantis. Tidak ada hubungan apapun diantara mereka, kecuali bera…

Saya Tahu Rasanya

Gambar
Dulu, sewaktu kecil, rumah saya, maaf maksudnya rumah orang tua saya, berbentuk agak panggung. Maksudnya agak tinggi. Kurang tepat saja rasanya kalau rumah bukan dari kayu sekalipun tinggi tetap disebut rumah panggung. Mungkin sampai saat ini, kecamatan tempat saya tinggal pada masa kecil itu, seringkali kebanjiran, namun seingat saya dulu tidak sampai masuk ke dalam rumah seperti yang dirasakan seorang kawan saat ini.

Air setinggi hampir 1 meter itu hanya sampai di pekarangan, dan tidak sampai ke atas teras. Saya tidak tau kalau itu adalah sebuah musibah, yang saya tau persis itu adalah sebuah kesempatan berharga untuk berbasah-basah mandi di kala banjir. Sebuah kesempatan lain untuk bergembira.


Sekali waktu, tengah asyik bermain banjir, saya tergesa-gesa lari menuju teras. Oh ya, kenapa dikatakan lari? karena kaki saya masih sanggup menyentuh tanah dan tidak mengambang. Jelas pula tak cukup untuk menyelam dalam. Saya berusaha keras untuk dapat mencapai teras secepat mungkin, karena…

Jadi Penikmat Saja

Gambar
Akibat senang keluyuran kesana-kemari, pada suatu kesempatan perbincangan dengan fungsionaris beberapa partai, pernah dimintai pendapat dengan embel-embel sebagai pengamat.
Dengan tegas saya menjawab, "Waduh Pak, tolong jangan sebut saya sebagai pengamat. Saya tidak memiliki kapasitas untuk menjadi pengamat. Lagi pula kalau harus menjadi pengamat, saya akan pusing karena harus terus mengamati dan kalau pengamatan saya salah akan lebih berbahaya. Lebih baik menjadi penikmat saja. Tidak perlu pusing-pusing. Mau salah atau benar, yang penting saya bisa menikmati".

Kadang kala menjadi pengamat memiliki prestise tersendiri. Pengamat politik, pengamat pendidikan, pengamat ekonomi dan pengamat lainnya. Kemudian berkembang menjadi pengamat yang lebih khusus, mungkin bernama pengamat politik timur tengah yang khusus mengamati perpolitikan di daerah timur tengah, pengamat perbankan yang khusus mengamati soal-soal dunia perbankan. Bukan tidak mungkin profesi ini akan semakin mengerucut…

Jangan Pertaruhkan Nasib Kami!

Gambar
Dengan langkah canggung dia berjalan menyusuri koridor bangunan yang megah itu. Pantulan suara langkah kakinya dirasa menggema setiap telapak kakinya menghentak dihalus-haluskan pada lantai marmer yang licin tersebut. Suara pantulan itu seperti sengaja mencoba membentuk resonansi dengan degub gugup jantungnya. Karena ini adalah untuk yang pertama kalinya ia berkunjung ke gedung tersebut.

Tahun 1991, itu yang ia ingat. Gedung itu sudah terlihat sangat megah, dengan penghuni orang-orang yang berpakaian rapi serta hampir selalu mengenakan safari atau jas. Ia terus mencoba menenangkan diri dari rasa grogi. Sebagaimana yang pernah ia dapatkan, bahwa grogi tidak akan pernah bisa membantu menyelesaikan masalah.

Koridor sunyi telah dilaluinya, Lega rasanya ia sudah tak mendengar pantulan suara langkah kaki di dinding beton yang menopang atapnya yang sungguh sangat khas itu. Berkurang sudah faktor pendukung resahnya karena pengalaman pertama itu.

Siang hari, disuatu waktu pada 1991. Ia menuju …

Seragam dan Teknik

Gambar
"Aduhh.. ternyata mereka mengenakan seragam panitia!" Itu adalah kalimat yang terlontar dalam kepala saya, bertahun-tahun lalu, saat masih berada di Bandung. Kalau tidak salah hari adalah Hari Minggu, 28 April 1996, namun saya tak turut ayah ke kota untuk naik delman istimewa. Karena seingat saya saat itu bertepatan dengan Hari Raya Idul 'Adha 1416 H, yang kalau tidak salah juga bertepatan dengan mangkatnya Ibu Tien Soeharto. Namun, ini bukan tentang beliau.

Bukan hal yang aneh kalau keluar rumah mengenakan pakaian biasa dan kemudian membawa senjata tajam pada momen seperti Idul Adha itu. Bahkan perampok bersajam pun bisa jadi dikira sebagai petugas jagal sapi atau kambing. Saya? Saya sendiri kala itu keluar dari rumah dengan mengenakan celana yang terbuat dari karung terigu serta mengenakan baju kaos biasa yang mereknya jelas memudar bersama ingatan.

Bukan lantaran sebilah belati yang telah terasah tajam dan terselip di pinggang yang membuat saya berjalan dengan cukup g…

Terang Saja Aku Merindunya

Gambar
Judul tersebut memang mengutip salah satu syair lagu milik Padi yang berjudul Begitu Indah. Namun ini memang tidak bicara soal lirik lagu, judul lagu ataupun siapa yang membawakannya. saya justru bicara tentang kehilangan. Yakni kehilangan keindahan. Bicara tentang pepohonan dan suasana yang dulu menyergap saat berada diantaranya.

Dulu... rumah ini mungkin menjadi ujung Kota Banjarbaru, karena di sekitar sini yang ada hanya hutan pinus dan tanaman-tanaman lain. Tapi tidak saat ini. Kini, sudah sangat sulit mencari pohon dan buah karamunting yang dulu banyak terdapat di sekitar pemukiman kami. Kini, sudah tidak ada lagi anak-anak pohon pinus yang akarnya meliuk-liuk indah, untuk dijadikan tongkat dan batangnya yang sangat bagus dijadikan alat permainan patuk lele layaknya masa kecilku.

Dulu... saat kami masih menjadi anak-anak yang riang, sekelompok anak kecil di perumahan ini kadang berkumpul bersama, laki-laki atau perempuan, bermain bersama di hutan pinus itu. Saat anak-anak perempu…