Dunia Memang Sempit

Malam ini, dengan ditemani alunan suara Tiar Ramon yang mengalunkan lagu-lagu melayu macam Seroja, Sri Mersing dan lain-lain, dan terutama akibat telpon seorang kawan lepas tengah malam, saya sungguh kian meyakini bahwa dunia itu ternyata sempit. Walau dulu sudah mengenal bermacam pemeo seperti dunia tak selebar daun kelor, atau sejenisnya, namun berbekal kasus pribadi, saya yakin, dunia itu sempit.

Banyak hal yang membuat saya kian meyakini hal ini, paling tidak ada beberapa yang mungkin dapat saya bagi melalui halaman ini.

Misalnya saja Ichal dan Soulharmony, dua orang blogger Kalsel, yang setelah keduanya ikut kopdar pada saat yang bersamaan, baru tau kalau ternyata mereka berdua adalah SAUDARA SEPUPU !!! Apalagi soulharmony bukanlah nama yang dikenal dikeluarga, melainkan untuk lingkungan ngeblog saja.

Belum lagi beberapa kejadian macam saya alami ...

Medio 1995, saat saya masih berada di Bandung yang Kota Kembang itu, dengan berbekal trik klasik titip map, saya berhasil berkenalan dengan seorang dara. Hanny Herdiani namanya. Hanny saat itu sangat berniat untuk menjadi seorang dokter berasal dari Bukit Tinggi di Sumatera Barat sana. Jauh sekali dari Kalimantan Selatan sini.

Hanny, yang pada pagi hari bisa saja menelpon ke tempat tinggal saya saat itu, hanya untuk berkata, "Hanny mau pulang ke Bukit Tinggi dulu ya". Keesokan harinya pun, atau bahkan beberapa jam setelahnya, biasanya saya kembali mengangkat gagang telpon untuk menerima sebuah kabar dari suara yang saya kenal, "Hanny sekarang sudah sampai di rumah di Bukit Tinggi".

Hanny Herdiani, yang saya kenal di Bandung itu pernah suatu ketika berkata, "Kakek Hanny orang Banjar lho. Kalau gak salah dulu rumahnya di daerah Kayu Tangi, Banjarmasin".

Saya pun menjawab, "Oooo....", namun pikiran saya menjawab lebih panjang lagi, "Urang banjar juga ternyata".

Awal 2000-an, saat saya masih berada di Malang yang Kota Bunga itu, dengan kebiasaan lebih suka berteman dengan banyak orang, saya kenal dengan seseorang,
lagi-lagi seorang dara,yang kemudian saya panggil sebagai Adhe.

Seorang mahasiswi jurusan MIPA Biologi, berasal dari Pasuruan, yang tak pernah mengenakan rok, yang juga pernah sedikit saya ceritakan sebelumnya. Si Adhe juga ternyata pernah menyampaikan sebuah hal, "Mas, Ibu orang Banjar, lho", katanya.

Saya pun menjawab, "Heh?!?... banjar juga?!?", namun kembali pikiran saya menjawab lebih panjang lagi, "...kok ya lagi-lagi sama, ga di Bandung ga di Malang...".

Paling tidak dua kisah itu yang sanggup saya bagikan, belum lagi beragam tragedi yang saya dan kawan-kawan alami, misalnya saat di Malang dan Surabaya, di bioskop, di angkot, bahkan di bis kota dengan seorang supir bis kota.

Belumlah lagi apa yang terjadi 2 malam yang lalu, kian membuat saya yakin bahwa dunia itu sangat sempit.

Saking sempitnya dunia, burungpun tak sempat memiliki tempat khusus untuk buang hajat. Jadilah ia buang hajat dimana ia sudah tak tahan, sekalipun itu akhirnya jatuh tepat dan telah di atas kepala dan pundak saya. Dunia memang sempit.

Catatan:
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama (pakacil.net) yang sekarang sudah tidak aktif lagi.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Original Soundtrack (OST) Dilan

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!