Banjarbaru di Kepala Saya (Jilid 01)

ahh... setelah saya perhatikan betul-betul, sudah cukup lama saya tidak menuliskan sesuatu tentang Banjarbaru pada blog ini. Entah karena apa, bisa jadi karena akhir-akhir ini tenggelam dalam berbagai lamunan dan pekerjaan sehingga sejenak mengistirahatkan panca indera saya mengitari Banjarbaru.

okehhh.. sodara sodari, kali ini saya akan bercerita tentang kota yang telah membesarkan saya ini. Kota yang menyimpan banyak hal dalam memori jangka pendek dan panjang saya. Tarik nafas sendiri dalam-dalam, jangan tarik nafas orang lain, sebab saya akan mulai.

Pertanyaan sederhana saya munculkan untuk diri sendiri, yakni, apakah saya betah tinggal di Banjarbaru dan pernahkan memutuskan untuk tinggal di Kota lain? Jawabannya adalah betah dan tidak pernah memikirkan untuk pindah kota!

Jika pertanyaan itu disampaikan secara lisan, maka akan terdengar jawaban saya yang cepat dan tegas, tanpa keraguan sedikitpun.

Kota Banjarbaru
Banjarbaru dalam mata saya adalah sebuah kota yang kecil namun menarik. Tapi tidak juga menurut beberapa kenalan saya, Banjarbaru adalah sebuah kota yang cukup besar secara relatif jika dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia ini, dan kota-kota itu adalah kota-kota yang sering terdengar di media dari pada Kota Banjarbaru.

Ahh... saya tidak tau pasti soal itu, namun tidak satu orang yang mengatakan demikian. Mungkin kalau saja saya menjadi anggota DPRD Banjarbaru, dan sering melakukan studi banding dengan biaya daerah ke Kota lain akan mampu melakukan studi komparasi. Tapi mustahil... karena saya tak pernah berminat untuk menjadi caleg.

Akses yang sangat mudah menuju Banjarbaru dan di dalam Banjarbaru membuat saya senang. Bandara utama propinsi Kalimantan Selatan pun terletak di Banjarbaru, selaiknya Bandara Juanda yang terletak di Sidoarjo. Mungkin cuma karena lucu saja, kalau nama jurusan penerbangan itu dirubah menjadi Banjabaru - Sidoarjo makanya kemudian ditetapkan sebagai Banjarmasin - Surabaya.

Aksesibiiltas dari dan ke Banjarbaru sungguh sangat mudah. Bahkan, sekolah paling jauh di Banjarbaru pun dapat dengan mudah di akses dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tapi entah kenapa, sampai saat ini saya belum juga habis menelusuri seluruh sudut Banjarbaru. Hehehe... ini memang persoalan lain.

Jalan-jalan primer dan sekunder di Banjarbaru hampir tidak ada yang buntu, semua saling terkait laiknya sarang laba-laba. Apalagi dengan aturan dari Pemerintah Kota Banjarbaru yang sejak beberapa tahun yang lalu tidak memperkenankan lagi penggunaan aspal goreng dalam melakukan peningkatan kualitas jalan. Penggunaan latasir ini tentu membuat kualitas jalan di Banjarbaru lebih baik. Lagi pula mungkin dikhawatirkan dengan penggunaan aspal goreng akan ada pengusaha konstruksi yang nekad berkreasi menggunakan aspal rebus.

Bayangkan pula Anda jika tidak berkendaraan tanpa membawa surat menyurat yang lengkap, lantas di kejar-kejar polisi, tentu sangat mudah untuk menyusuri jalan-jalan di Kota Banjarbaru, Anda tidak akan menemukan jalan buntu. Hanya keterampilan Anda berkendara yang memutuskan keberhasilan Anda. Jika Anda tetap tertangkap, maka percayalah, nasib buruk sedang menimpa Anda.

Fasilitas umum dan ruang publik di Banjarbaru juga tersedia. Paling tidak, ada wilayah yang dijadikan tempat konsentrasi massa tidak hanya sehari dalam seminggu, bahkan setiap hari. Tempat itu bernama lapangan Murdjani. Ini adalah sebuah ruang publik yang terbuka, dan kalau menurut orang-orang jawa, mungkin bisa dinamakan alun-alun. Kalau Anda pernah ke Bandung, maka bayangkanlah Gasibu. Ya... macam itulah Murdjani.

Cuma yang kurang adalah demonstrasi yang menggunakan lapangan ini. Demonya itu-itu saja, tidak ada demo terobosan. misalnya tumpah ruahnya warga Banjarbaru untuk memaksa saya menjadi Walikota.

Murdjani yang relatif luas ini memang dikelilingi oleh perkantoran dan diatapi oleh langit terbuka. Tapi diantara udara Murdjani itu, terdapat sinyal wi-fi yang dapat kita gunakan untuk online dan menimkmati koneksi internet gratis yang disediakan oleh Pemerintah Kota Banjarbaru. Bahkan, menurut salah satu sumber yang dapat dipercaya, soal koneksi ini akan ditambah untuk mengcover ruang publik di Banjarbaru, khususnya untuk kawasan Murdjani dan Taman Van der Peijl.

Oh.... ya.. Taman Van der Peijl, ini adalah sebuah lokasi terbuka yang tersedia panggung padanya. Seringkali diadakan acara-acara serius atau tidak ditempat ini. Walau juga Murdjani lebih sering digunakan untuk berbagai agenda besar berbentuk hiburan atau bukan.

Jika kita melangkahkan kaki ke Murdjani ini pada malam hari, maka di sekelilingnya akan banyak ditemui penjual kuliner, dari jagung bakar, roti bakar, pentol goreng, dll. Tinggal pilih. Pada ruas-ruas jalan tertentu yang tertata rapi di seputar Murdjani juga kerap digunakan oleh muda-mudi yang kurang pede untuk pacaran di tempat terang. Karena minder untuk berduaan di tempat terang itulah, mereka lebih memilih kawasan yang cenderung lebih gelap.

Mungkin, suatu saat dan memang pernah tercetus rencana untuk meningkatkan penerangan di kawasan-kawasan itu, tapi saya sangat skeptis hal ini akan terealisasi dalam waktu dekat. Masalahnya bukan ada pada Pemerintah Kota Banjarbaru, tapi masalahnya ada pada perusahaan setrum milik negara itu yang katanya lagi kekurangan daya. Siapa tau juga masalah ini akan terkait dengan aspirasi anak muda yang tetap menginginkan kawasan itu remang-remang.

Murdjani tidak hanya menjadi milik orang Banjarbaru, banyak orang dari Martapura (Kab. Banjar) dan Kota Banjarmasin yang datang ke tempat ini hanya sekedar untuk bersantai, karena memang hanya Banjarbaru yang memiliki tempat macam ini. Ya.... Banjarbaru diuntungkan oleh sejarah...

Ya... saya tidak pernah bermimpi untuk pindah ke kota lain & bertekad bahwa saya akan tetap tinggal di Banjarbaru dan mengabdikan diri saya di Banjarbaru. Ahh.. ini sih sebuah cita-cita yang mulia bukan? Maklum saja... saya adalah lulusan beberapa kali penataran P4.

Harus diakui, bahwa Banjarbaru memiliki kawasan pemukiman yang lebih tertata dan mudah dijangkau. Bahkan, biaya membangun rumah di Banjarbaru, lebih jauh irit dari pada membangun di Banjarmasin, terutama untuk bangunan beton. Hal ini di dukung oleh persoalan lahan di Banjarbaru yang lebih bagus dan bukan rawa.

Pemukiman baru banyak tumbuh di Banjarbaru dengan berbagai nama dan tipe. Hanya satu hal yang saya tidak suka, yakni kalau pengembang itu memaksimalkan keuntungan dengan membangun perumahan tipe kopel (baca: couple). Itu lho... rumah yang pada satu sisinya berdempetan. Macam rumah saya di Malang. Kalau di Jawa mungkin bisa dimaklumi, karena sudah sedemikian tingginya harga tanah dan sempitnya lahan pemukiman, apalagi di tengah kota.

Masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang Banjarbaru, tapi harus saya akhiri dulu, karena sudah jam 8 pagi. Sudah saatnya istirahat sejenak, mengheningkan diri barang 1 - 2 jam kalau tidak keterusan. Saya akan sambung lagi cerita tentang Banjarbaru ini dalam sisi lainnya.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru