Banjarbaru Perlu Lokasi TPU Baru

Lebaran kali ini, shalat 'Id di lapangan Murdjani Banjarbaru. Jamaah kali ini jauh lebih banyak dari pada beberapa tahun terakhir, karena tahun ini memang lebaran secara umum berbarengan, 1 Oktober 2008. Selain sejumlah ormas Islam besar berhari raya di hari yang sama, lebaran kali ini juga berbarengan dengan Hari Kesaktian Pancasila, walaupun saya dapat menjamin sepenuhnya bahwa kian penuhnya lapangan bukan karena faktor yang terakhir ini.

Shalat 'Id memang selalu sama, 2 rakaat, tak mungkin di rubah. Ceramah sang khatiblah yang bisa berganti-ganti topiknya tiap tahun. Suasana shalat 'Id kali ini pun ditingkahi dengan kampanye politik murahan dari salah satu partai di Banjarbaru yang membagikan air mineral plus permen dengan disertai daftar calegnya. Ya... itu memang usaha, saya berdoa semoga keadilan dan kesejahteraan bisa diwujudkan dengan cara itu. Karena kalau bisa, artinya kita akan cukup mudah mewujudkannya.

Selepas shalat 'Id, saya ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Guntung Lua di Banjarbaru. TPU ini kian berkembang saja sekalipun tidak menyediakan tipe beragam, namun mau tak mau tetap diperlukan. Tipe tersedia hanya 2, yakni ukuran orang dewasa dan ukuran anak-anak.

Salah satu TPU di Kota Banjarbaru. (Koleksi Pribadi)
TPU ramai dengan para penziarah dan saya datang ke dua buah makam. TPU ini juga rupanya kali ini menjadi tempat perjumpaan sekaligus silaturahim tak sengaja saya dengan beberapa kawan.

Melihat begitu banyaknya penziarah, melesat sebuah pikiran di kepala saya dan pikiran itu pasti benar, yakni bahwa setiap dari kita pasti akan 'pulang' dan mengembalikan pinjaman ruh ini kepada Sang Cahaya. Kita semua akan menjadi penghuni salah satu TPU, entah kapan dan di mana.

Sungguh, ternyata Banjarbaru memerlukan persiapan lokasi TPU baru. Karena TPU Guntung Lua ini memang begitu populer dan menarik minat tidak hanya warga Kota Banjarbaru, melainkan juga dari daerah sekitar. Jauh lebih bagus keadaan tanahnya dari pada Banjarmasin misalnya yang kadang berair itu. Hal ini pasti akan saya usulkan ke sejumlah pihak terkait dan selepas hari raya kali ini memang langsung saya usulkan kepada salah satu pihak.

Banjarbaru memang perlu untuk menyiapkan lahan untuk TPU yang baru, seriring dengan pertambahan jumlah penduduk yang kian pesat baik oleh kelahiran dan/atau peristiwa kependudukan lainnya, pembangunan wilayah pemukiman oleh pihak pengembang perumahan juga terus dilakukan dengan pesat. Pada sisi lain, tidak ada investor yang membangun pemakaman umum.

Semoga dengan usulan ini saya dan sejumlah pihak di Pemko Banjarbaru itu kian ingat bahwa setiap makhluk yang bernyawa itu pasti mati. Beruntung, saat ini sudah ada pihak yang mendukung usul ini. Paling tidak, saat saya pulang nanti masih ada tempat yang tersedia dengan cukup biaya dan tidak harus merepotkan yang ditinggalkan dengan jarak dan biaya hanya untuk mengurus jasad saya yang sudah tak bisa apa-apa.

Sekalipun saya sudah berpesan pada keluarga saya, bahwa kalau saya pulang nanti, cukuplah tanam saya tak perlu berbagai hal lain karena urusan saya di dunia ini sudah selesai. Biarkan saja amal jariyah, ilmu yang mudahan bermanfaat yang bekerja untuk saya atau kalau beruntung saya sudah memiliki anak yang shaleh yang mendoakan saya. Sisanya, biarkanlah keluarga saya yang masih ada untuk mengejar peruntungannya sendiri-sendiri saat masih ada waktu.

Persiapan ini lebih baik dari pada saya mengikuti nasihat salah satu paman saya beberapa bulan lalu yang berkata, "...lihat, TPU Guntung Lua itu sudah mulai penuh. Kalau tak mau kehabisan kapling lebih baik duluan saja...". Saya hanya bisa menjawab pendek atas usulan itu, "...silakan paman saja duluan, biar saya nyusul belakangan...".

Lumayan, paman saya terdiam.

Catatan:
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama (pakacil.net) yang sekarang sudah tidak aktif lagi.

Komentar

Banyak yang baca dalam 30 hari terakhir:

Berbahayakah Menarik Rambut Hingga Berbunyi?

Original Soundtrack (OST) Dilan

Jadwal Buka Puasa Bersama Ramadhan 1437 H Kota Banjarbaru