Hitung-Hitungan Antrian BBM

2 hari ini begitu melelahkan bagi sebagian orang, malah hampir dapat dipastikan banyak orang. Pangkal masalahnya jelas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Selatan, khususnya di Kota Banjarbaru, tempat tinggalku. Sudah habis kata untuk mengungkapkan kekecewaan dan kekesalan atas hal ini. Mungkin sudah banyak pula sumpah serapah yang keluar dari mulut orang-orang akibat persoalan ini.

Antrian BBM di Banjarmasin. Foto: phi3wulandari.wordpress.com
Aku hanya ingin berbagi sedikit ilustrasi tentang antrian ini. Sudah banyak mungkin foto yang beredar, namun aku akan membagi ilustrasi panjangnya antrian sepeda motor di salah satu SPBU di Kota Banjarbaru. Ilustrasi dibuat berdasarkan pengamatan secara langsung ke TKP, pada Senin, 16 Juni 2008 Pukul 20.55 WITA.

Jika rata-rata panjang sepeda motor adalah 1,8 m, maka paling tidak antrian itu kalau di jejer 1 motor ke belakang, akan menghasilkan antrian yang panjangnya lebih dari 2,880 km.

Jika panjang itu (2,880 km) diasumsikan sebagai panjang minimum, dan dikonversikan untuk jumlah tumpukan kerupuk yang sering berwarna merah atau kuning itu, temanku makan nasi pecel, maka jumlah kerupuk yang menghasilkan tinggi tumpukan 2,880 km adalah sejumlah minimal 288.000 (dua ratus delapan puluh delapan ribu) buah kerupuk, dengan asumsi ketebalan kerupuk adalah rata-rata 1 cm. Kalau 1 bungkus kerupuk terdiri dari 10 buah isi, maka paling tidak akan memerlukan 28.800 bungkus kerupuk.

Jika panjang antrian itu di konversi ke jumlah batang rokok Sampoerna A-Mild yang memiliki panjang batang 9 cm, maka akan terdapat tidak kurang dari 32.000 batang rokok, atau terdiri dari 2000 bungkus Sampoerna A-Mild isi 16 batang. Ini berarti seharga Rp 21.000.000,- (dua puluh satu juta rupiah) menurut harga bandrolnya.

Uang sejumlah itu dapat memperoleh sekitar 6000 bungkus nasi kuning yang biasa kuburu setiap pagi untuk sarapan, dan ini akan berarti akan habis disantap selama lebih dari 16 tahun !!! Dan ini berarti pula jika ada yang melahirkan pada saat ini, anaknya sudah akan duduk di tingkat SMA.

Jika uang sejumlah itu kuhabiskan untuk makan siang tiap hari dengan menu yang sama, yakni pais (pepes) patin atau patin bakar di warung langganan, maka akan diperoleh lebih dari 1900 porsi makan siang lengkap dengan sayur/lalapan, nasi tambah, es teh atau es jeruk dan harga belum termasuk diskon.

begitulah...

Jika waktuku untuk menghitung ilustrasi dan konversi konyol nan tidak ilmiah ini digunakan untuk menuliskan sesuatu yang lebih penting tentang kelangkaan BBM, maka bagi sebagaian orang mungkin akan lebih bermakna, tapi jelas akan membuatku lebih marah atas kondisi ini.

Catatan:
Tulisan ini dipulihkan dari blog lama (pakacil.net) yang sekarang sudah tidak aktif lagi.

Komentar